MAKALAH IPA “PERANAN HUTAN SEBAGAI PENYIMPAN KARBON”

TUGAS MAKALAH IPA
“PERANAN HUTAN SEBAGAI PENYIMPAN KARBON”
logo_400x4001
DISUSUN OLEH :
ALAN REYNALDI HUSAIN
AHMAD AHID BASO
XII.A
KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN
SUMBER DAYA MANUSIAKEHUTANAN
SMK KEHUTANAN MAKASSAR
2014
KATA PENGANTAR
 
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “PERANAN HUTAN SEBAGAI PENYIMPAN KARBON” dengan lancar.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
  1. Bapak , Ibu dan Keluarga yang selalu memberikan bantuan materil maupun do’anya.
  2. Ibu Mardiana Suyuti,S.Si yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada kami.
  3. Teman – teman yang selalu memberikan motivasi dan semangat.
            Harapan penulis, semoga karya ilmiah yang sederhana ini dapat memberikan kesadaran tersendiri bagi kehidupan sekarang maupun yang akan datang akan fungsi Hutan yang sangat besar manfaatnya
            Penulis sadar, sebagai seorang pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Makassar,       April 2014
                  Penulis
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR ISI
 
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
   1.1  Latar Belakang
   1.2  Rumusan Masalah
   1.3  Tujuan Penelitian
   1.4  Hipotesis
BAB II PEMBAHASAN
   2.1  Penyebab dan Dampak Peningkatan Emisi Karbon
     2.1.1        Penyebab Peningkatan Emisi Karbon
     2.1.2        Dampak Peningkatan Emisi Karbon
   2.2  Proses Siklus Karbon
   2.3  Upaya Penanggulangan Peningkatan Emisi Karbon
   2.4  Proses Hutan Mengurangi Emisi Karbon
   2.5  Upaya Dalam Pelestarian Hutan
BAB III PENUTUP
   3.1  Kesimpulan
   3.2  Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan sebagai paru-paru dunia juga penyumbang oksigen dan keanekaragaman hayati terbesar di muka bumi. Terdapat berbagai jenis flora dan fauna didalamnya. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia yang dapat ditemukan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin. Hutan memiliki banyak fungsi, kegunaan dan manfaat. Ada beberapa manfaat hutan, antara lain sebagai fungsi ekonomi, fungsi klimatologis, fungsi hidrologis dan fungsi ekologis.
Fungsi ekonomis antara lain, sebagai hasil hutan dapat dijual langsung atau diolah menjadi berbagai barang yang bernilai tinggi, membuka lapangan pekerjaan bagi pembalak hutan legal, menyumbang devisa negara dari hasil penjualan produk hasil hutan ke luar negeri.
Manfaat atau fungsi Klimatologis antara lain untuk mengatur iklim, hutan sebagai paru-paru dunia yang menghasilkan oksigen bagi kehidupan. Hutan juga memiliki fungsi hidrolis sebagai menampung air hujan di dalam tanah, mencegah intrusi air laut yang asin dan menjadi pengatur tata air tanah.
Tidak hanya itu, hutan juga memiliki fungsi ekologis sebagai pencegah erosi banjir, menjaga dan mempertahankan kesuburan tanah dan yang terpenting dari fungsi ekologis dari hutan untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Serta salah satu manfaat hutan yang terpenting adalah hutan berfungsi sebagai tempat penyimpanan karbon.
Dewasa ini polusi udara menjadi salah satu permasalahan serius yang mendera kota besar di berbagai belahan dunia. Tingginya intensitas aktivitas industri di kota besar menyumbang polusi udara yang sangat besar. Apalagi di era industrialisasi saat ini, jumlah emisi karbon semakin meningkat. Selain dari industri, emisi buangan kendaraan bermotor juga menyumbang persentase polusi udara yang cukup besar. Seperti yang dapat kita lihat di Jakarta, jumlah sepeda motor mencapai 8 Juta unit, dan mobil mencapai 1 Juta unit. Dengan jumlah kepadatan kendaraan bermotor, tidak heran, tingkat polusi udara semakin meningkat setiap tahunnya.
Dari hasil inventarisasi kandungan emisi karbon di Indonesia dengan menggunakan metoda IPCC 1996, diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi total CO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61 Gg, NOX sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Adapun penyerapan CO2 oleh hutan kurang lebih sebanyak 364,726 Gg, dengan demikian untuk tahun 1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkat penyerapannya. Indonesia sudah menjadi net emitter, sekitar 383,881 Gg pada tahun 1994. Hasil perhitungan sebelumnya, pada tahun 1990, Indonesia masih sebagai net sink atau tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi. Berapapun kecilnya Indonesia sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnya konsentrasi kandungan emisi karbon secara global di atmosfer.
Pada saat berbagai negara membenahi prosedur penanganan emisi karbon-nya, pemerintah Indonesia belum terlihat menunjukan upaya yang optimal dalam menanganinya, utamanya di kota besar. Menurut laporan World Bank dan UNEP tahun 2008, tingkat emisi karbon di Jakarta mencapai dari batas normal . Laporan World Bank 2008 bahkan menempatkan Jakarta sebagai salah satu dari 20 kota dengan polusi terburuk di Asia. Kondisi ini akan terus bertambah parah apabila perkiraan pakar perihal kelumpuhan Jakarta di tahun 2014 benar-benar terjadi.
Diperlukan penanganan secara efektif dan efisien untuk menanggulanginya. Dari sudut pandang ekonomi, menurut Arthur Pigou, polusi udara menghasilkan eksternalitas negatif dalam kurva keseimbangan. Menurut Pigou, eksternalitas negatif akan memberikan biaya tambahan yang ditanggung oleh masyarakat yang disebut social cost. Untuk mengurangi eksternalitas negatif tersebut, diperlukan serangakaian kebijakan untuk mereduksi produksi emisi karbon. Setidaknya terdapat dua cara yang dapat ditempuh. Model pertama adalah dengan menggunakan carbon emission limit. Melalui kebijakan ini, baik industri maupun kendaraan bermotor diberikan batasan emisi karbon yang diperbolehkan. Model kedua adalah dengan menggunakan pajak polusi dan carbon emission trading. Dengan metode ini, industri akan dikenakan biaya setiap jumlah karbon yang dihasilkan. Kebijakan ini telah ditempuh di beberapa negara maju seperti, Amerika, Irlandia, Jepang, Inggris dan Prancis.
Selain daripada pencanangan kebijakan, diperlukan serangkaian program tambahan untuk memperkuat fondasi kebijakan ramah lingkungan, seperti pembatasan jumlah kendaraan bermotor tiap keluarga, penambahan dan perbaikan angkutan transportasi publik. Kegiatan reboisasi juga harus kembali digiatkan, untuk mereduksi dampak negatif emisi karbon.
1.2  Rumusan Masalah
  1. Apakah penyebab dan dampak peningkatan emisi karbon?
  2. Bagimanakah proses siklus karbon yang ada di atmosfer?
  3. Bagaimanakah upaya penanggulangan peningkatan emisi karbon?
  4. Bagaimanakah hutan mengurangi emisi karbon?
  5. Bagaimanakah cara melestarikan hutan?
1.3  Tujuan Penelitian
  1. Untuk mengetahui penyebab dan dampak dari peningkatan emisi karbon.
  2. Untuk menjelaskan proses siklus karbon yang ada di atmosfer.
  3. Untuk mengetahui upaya penanggulangan dalam mengurangi emisi karbon.
  4. Untuk menjelaskan bagaimana hutan mengurangi emisi karbon.
  5. Untuk mengetahui cara dalam melestarikan hutan.
1.4  Hipotesis
Kawasan hutan berpengaruh terhadap kadar emisi karbon yang ada dibumi.
BAB II
                             PEMBAHASAN                               
 
2.1  Penyebab dan Dampak Peningkatan Emisi Karbon
   2.1.1        Penyebab Peningkatan Emisi Karbon
Sumber peningkatan emisi karbon dapat dikategorikan atas sumber bergerak dan sumber tidak bergerak, yang meliputi sektor transportasi, industri, dan domestik. Sumber peningkatan emisi karbon yang utama adalah berasal dari transortasi khususnya kendaraan bermotor, yang menggunakan bahan bakar yang mengandung zat pencemar. Fardiaz (1992) mengungkapkan bahwa 60% dari emisi tersebut terdiri dari karbon monoksida dan 15 % dari hidrokarbon. Selain kendaraan bermotor, kegiatan industri juga merupakan salah satu sumber peningkatan emisi karbon, dimana bahan bakar yang digunakan industri dan kendaraan bermotor berupa bensin bertimbal dan solar dengan kandungan belerang tinggi yang menyebabkan pembakaran dalam mesin tidak sempurna. Walhi (2004) menjelaskan bahwa, kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13%-44% SPM, 71%-89% hidrokarbon, 34%-73% oksida nitrogen, dan hampir seluruh karbon monoksida ke udara Jakarta. Hasil pembakaran tersebut berupa polutan yaitu CO, HC, SO2, NO2, dan partikulat. Pendapat lain juga menambahkan bahwa bahan emisi karbon yang dikeluarkan oleh industri maupun pembangkit listrik antara lain adalah partikel debu, gas SO2 (Sulfur dioksida) gas NO2 (Nitrogen dioksida) gas CO (karbonmonoksida) gas He (helium). Perubahan kualitas udara biasanya mencakup parameter-parameter gas NO2, SO2, CO, C3, NH3, H2S, hidro karbon dan partikel debu. Kozak dan Sudarmo dalam Purnomohadi (1995) menjelaskan bahwa, ada dua bentuk emisi dari dua unsur atau senyawa pencemar udara, yaitu :
  1. Pencemar Udara Primer (Primary Air Pollution), yaitu emisi unsur-unsur pencemar udara langsung ke atmosfer dari sumber-sumber diam maupun bergerak. Pencemar udara primer ini mempunyai waktu paruh di atmosfer tinggi pula, misalnya : CO, CO2, SO2, NO2, CFC, Cl2, dan partikel debu.
  2. Pencemar Udara Sekunder (Secondary Air Pollution), yaitu emisi pencemar udara dari hasil proses fisika-kimia di atmosfer dalam bentuk fotokimia (photochemistry) yang umumnya bersifat reaktif dan mengalami transformasi fisika-kimia menjadi unsur dan senyawa. Bentuknya berubah dari saat diemisikan hingga setelah ada di atmosfer, misalnya : ozon (O¬3), aldehida dan hujan asam.
Sumber pencemaran lain berasal dari aktivitas domestik dan penggunaan bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, pembakaran sampah secara terbuka, saluran air buangan, dan penguapan bahan bakar saat pengisian di stasiun pengisian bahan bakar. Semua sumber bahan pencemar ini memberikan efek yang hampir sama terhadap lingkungan dan mahluk hidup yang ada dimuka bumi, dan perbedaannya hanya terdapat pada rekasi zat-zat yang terkandung dalam bahan pencemar tersebut.
   2.1.2        Dampak Peningkatan Emisi Karbon
Peningkatan emisi karbon berdampak pada kesehatan, tumbuhan, bangunan, ekonomi, dan pemanasan global. Dampak peningkatan emisi terhadap kesehatan. Rendahnya kualitas udara di dalam maupun di luar rumah menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan gangguan saluran pernafasan lainnya. Penyakit tersebut menduduki peringkat pertama yang dilaporkan oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Di samping itu, ada beberapa organ manusia yang dapat diserang akibat meningkatanya emisi karbon, yaitu :
  1. Mata, Menyebabkan mata berair dan pedih Bila senyawa tersebut terdapat dalam jumlah banyak, penglihatan menjadi kabur.
  2. Otak, Fungsi dan koordinasi motorik menjadi lemah, karena kadar O2 di dalam otak menurun pada saat CO tertutup.
  3. Hidung, tenggorokan, dan paru-paru, Ozon ( O3 ) menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan terasa terbakar. Ozon juga dapat memperkecil paru-paru.
  4. Jantung, CO yang dihirup akan berikatan dengan sel darah merah dan menyebabkan sel darah merah terhambat dan menyalurkan O2 keseluruh tubuh. Sakit pada dada disebabkan oleh rendahnya kadar O2.
  5. Syaraf, Pb dapat menyerang sel syaraf, mengurangi intelegensia dan menganggu pertumbuhan anak.
Pb (timbal) dapat terakumulasi dalam tubuh manusia, dan dapat meracuni atau merusak fungsi mental, perilaku, anemia, serta dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan sel syaraf dan sistem otak. Kandungan timbal dalam bahan bakar minyak juga dapat meracuni sistem pembentukan sel darah merah.
Selain manusia meningkatnya emisi karbon juga dapat memberikan efek kepada tumbuhan. Kualitas udara merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan vegetasi. Beberapa studi menunjukkan tumbuhan yang ditanam sepanjang jalur jalan utama di kota, tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan di luar kota.
Dampak peningkatan emisi karbon terhadap bangunan. Kepadatan area perkotaan, asap, dan partikel udara yang berasal dari kendaran bermesin diesel menyebabkan kotornya permukaan bangunan. Gabungan hal tersebut mempercepat pengikikisan bangunan. Berdasarkan hasil percobaan bahwa campuran pencemar-pencemar seperti ozon, nitrogen dioksida dan sulfur dapat merusak batu lebih cepat dibandingkan dengan satu persatu pencemar tersebut.
Dampak peningkatan emisi karbon terhadap pemanasan global yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Pemanasan global merupakan peningkatan secara gradual dari suhu permukaan bumi yang sebagian disebabkan oleh emisi dari zat-zat pencemar seperti karbondioksida (CO2), metan (H4) dan oksida nitrat (NO2). Zat-zat pencemar tersebut berkumpul di atmosfir membentuk lapisan tebal yang menghalangi matahari dan menyebabkan pemanasan planet dan efek rumah kaca. Pembangkit listrik, industri, dan kendaraan bermotor merupakan sumber utama penghasil CO2. Pendapat ahli menambahkan bahwa pemanasan global bersumber dari emisi gas rumah kaca (GRK) yang disebabkan kenaikan konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) karena kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan emisi GRK adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan chloro fluoro karbon (CFC).
Emisi GRK meningkatkan suhu bumi rata-rata 1-5°C. Bila kecenderungan peningkatan GRK tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5°C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer.
Hal tersebut akan mengakibatkan suhu permukaan bumi meningkat dan menimbulkan perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Dampak dari peningkatan suhu permukaan bumi adalah terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap CO2 di atmosfer.
Kontribusi Indonesia bagi pemanasan global. Indonesia berada di peringkat tiga penyumbang emisi gas buang CO2 setelah Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina (RRC). Penyumbang terbesar emisi gas buang CO2 adalah kebakaran hutan. Peningkatan CO2 berdampak terhadap pemanasan global. Sedangkan menipisnya lapisan ozon disebabkan oleh zat CFC, yang bersumber dari AC, lemari es dan semprotan aerosol. Dan hujan asam diebabkan oleh SO2 dan NO2 yang berasal dari asap knalpot dan pupuk yang digunakan dalam pertanian. Dampak pencemaran-penecemaran ini secara berkelanjutan dapat mengakibatkan :
  • Peningkatan permukaan laut yang disebabkan oleh mencairnya gunung es, dan akan menimbulkan banjir di sekitar pantai.
  • Naiknya temperatur permukaan air laut akan menjadi pemicu terjadinya badai terutama di bagian tenggara atlantik.
  • Rusaknya habitat seperti barisan batu karang dan pegunungan alpen sehingga menyebabkan hilangnya berbagai hayati di wilayah tersebut.
2.2  Proses Siklus Karbon
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui). Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermacam-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.
Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.
Karbon mengalir antara masing-masing penampungan (reservoir) dalam pertukaran yang disebut siklus karbon, yang memiliki komponen lambat dan cepat. Setiap perubahan dalam siklus karbon yang bergeser dari satu reservoir menempatkan lebih banyak karbon di penampungan lain. Perubahan yang menempatkan gas karbon ke atmosfer hasil dalam suhu lebih hangat di Bumi.
Siklus karbon merupakan siklus biogeokimia terbesar. Ada 3 hal yang terjadi pada karbon :
  • Tinggal dalam tubuh,
  • Respirasi oleh hewan,
  • Sampah/sisa dan Karbon itu masuk ke dalam perairan melalui proses difusi.
Secara umum,  karbon akan diambil dari udara oleh organisme fotoautotrof  (tumbuhan, ganggang, dll yang mampu melaksanakan fotosintesis). organisme tersebut, sebut saja tumbuhan, akan memproses karbon menjadi bahan makanan yang disebutkarbohidrat, dengan proses kimia sebagai berikut :
6 CO2 + 6 H2O (+Sinar Matahari yg diserap Klorofil) ↔ C6H12O+ 6 O2
Karbondioksida + Air (+Sinar Matahari yg diserap Klorofil)↔ Glukosa + Oksigen.
Hasil sintesa karbohidrat itu dimakan para makhluk hidup heterotrof sebagai makanan plus oksigen untuk bernafas. Tidak peduli makhluk herbivora, carnivora, atau omnivora, sumber pertama energi yang tersimpan dalam karbohidrat adalah tumbuhan.Karbon di dalam sistem respirasi akan dilepas kembali dalam bentuk CO2 yang nantinya dilepaskan saat pernafasan. Selain pelepasan CO2 ke udara saat pernafasan, para detrivor (pembusuk) juga melepaskan CO2 ke udara dalam proses pembusukan. Manusia juga tidak kalah peran dalam proses ini. Hasil segala pembakaran, mulai dari pembakaran sampah, pembakaran bahan bakar minyak di dalam kendaraan bermotor, asap pabrik, dan lain-lain juga melepaskan CO2 ke udara. CO2 di udara nantinya akan ditangkap oleh tumbuhan lagi dan siklus mulai dari awal lagi.
Di daratan, proses pengubahan CO2 menjadi karbohidrat dan melepaskan oksigen dilakukan oleh tumbuhan darat, sebaliknya, di daerah perairan, peran ini dimainkan oleh organisme-organisme fotoautotrof perairan seperti ganggang, fitoplankton, dan lain-lain. begitupula dengan peran yang melepaskan CO2 ke udara. Hal itu dilaksanakan oleh para detrovor dan organisme heterotrof. Di daratan ada manusia, kambing, sapi, harimau, dll. di lautan ada berbagai jenis ikan dan makhluk-makhluk perairan.
Proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya CO2 dan O2 atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO2 dan O2 ke atmosfer melalui respirasi hampir menyeimbangkan pengeluarannya melalui fotosintesis.
Akan tetapi pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya.
Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara, antara lain:
  • Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
  • Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump).
  • Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological pump).
  • Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).
Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, antara lain:
  • Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
  • Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
  • Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
  • Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.
  • Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer.
  • Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.
2.3  Upaya Penanggulangan Peningkatan Emisi Karbon
Penanggulangan peningkatan emisi karbon dilakukan pada dua sumber, yaitu :
  1. Sumber Bergerak
  • Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
  • Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
  • Memasang filter pada knalpot
  1. Sumber Tidak Bergerak
  • Memasang scruber pada cerobong asap.
  • Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
  • Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur, CO rendah.
  • Memodifikasi pada proses pembakaran.
  • Pembersihan ruangan dengan sistem basah.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh pemeritah pusat untuk mencegah dan mengendalikan pencemaran udara antara lain:
  1. Penetapan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pencemaran udara seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
  2. Penentuan pengelola pengawasan dan penanggungjawab pengendalian pencemaran udara serta dampaknya, yaitu :
  • Kementerian Negara Lingkungan Hidup bertanggungjawab terhadap regulasi emisi dan pemantauan dampak lingkungan yang terjadi;
  • Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertanggungjawab terhadap pengawasan dan pengendali mutu bahan bakar;
  • Departemen Perindustrian bertanggungjawab mengawasi produk komponen kendaraan yang ramah lingkungan dan mengawasi dan sertifikasi bengkel dalam rangka meningkatkan kualitas udara di perkotaan;
  • Departemen Perhubungan bertanggungjawab pengujian tipe untuk kendaraan bermotor produksi baru termasuk uji emisi gas buang dan pengadaan dan pemasangan converter ki;
  • Pemerintah Daerah bertanggungjawab terhadap pengujian kendaraan bermotor yang sedang berjalan.
  • Melaksanakan kegiatan pengendalian pencemaran udara antara lain dengan pencanangan Program Langit Biru, yaitu menetapkan regulasi tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor baik yang sedang diproduksi maupun kendaraan lama. Regulasi ini mengacu kepada standar emisi kendaraan EURO-II yang mensyaratkan bahwa kandungan timbal dan sulfur dalam bahan bakar bensin adalah di bawah angka 500 ppm (parts per-million) dan juga Program Penanaman 1 Milyar Pohon yaitu diman setiap daerah diberikan target mengenai jumlah pohon yang ditanam setiap tahunnya dan daerah yang tercatat sebagai penanam pohon terbanyak akan diberikan penghargaan oleh pemerintah pusat.
2.4  Proses Hutan Mengurangi Emisi Karbon
Menurut ilmu biologi kenapa hutan bisa menyerap karbon karena hutan adalah tempat sekumpulan pohon yang memiliki aktifitas biologisnya seperti fotosintesis dan respirasi. Dalam fotosintesis pohon (tanaman) menyerap CO2 dan H2O dibantu dengan sinar matahari diubah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi (sebelumnya diubah dulu melalui proses respirasi) tanaman tersebut dan juga menghasilkan H2O dan O2 yang merupakan suatu unsur yang dibutuhkan oleh organisme untuk melangsungkan kehidupan (bernapas). Sehingga, hanya dengan mengetahui dan memahami hal tersebut kita harus sadar bahwa hutan sangat dibutuhkan manusia untuk menyerap carbon yang berlebih dalam atmosfer.
Mekanisme tanaman dalam menyerap carbon melalui fotosintesis. Fotosintesis adalah proses penyusunan energi menggunakan cahaya pada organisme yang memiliki kloroplas. Fotosintesis adalah prose kimia yang paling penting di bumi ini. Kebanyakan tanaman melakukan fotosintesis pada daunnya. Proses fotosintesis diawali dengan reaksi terang pada reaksi terang energi matahari yang di convert ke chemical energi dan diproduksilah oksigen. Lalu tahap yang kedua adalah siklus calvin yang membuat molekul gula dari karbon yang membutuhkan energi ATP yang didapat dari proses respirasi. Siklus ini juga membawa hasil produksi dari reaksi terang. (Campbell,et all.2005)
Tumbuhan yang memiliki banyak daun lebih berpotensi menyerap carbon lebih banyak dari tumbuhan lain. Tetapi, penyerapan karbon juga bergantung dari kondisi tumbuhan tersebut apakah tumbuhan tersebut tumbuh optimal pada tempat yang sesuai dan tanahnya mengandung nutrien yang cukup untuk menghidupi pohon tersebut.
Menurut beberapa literatur, carbon sinks, atau carbon dioxide sinks, adalah reservoir atau tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi. Hutan dan laut adalah tempat alamiah di bumi ini yang berfungsi untuk menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida (CO2). Gas karbon dioksida diserap oleh tumbuhan yang sedang tumbuh dan disimpan di dalam batang kayunya.
Proses berpindahnya gas karbon dioksida dari atmosfer (ke dalam vegetasi dan lautan) biasa disebut sebagai carbon sequestration. Beberapa ahli di negara-negara maju saat ini banyak yang aktif meneliti tentang proses ini dan berharap menemukan sebuah cara efektif untuk membuat sebuah proses buatan dalam rangka mengurangi laju perubahan iklim global (mitigasi pemanasan global) yang menurut para ahli berada dalam level yang “cukup mencemaskan” abad ini.
Di Hutan, dalam proses fotosintesa, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer, menyimpan karbonnya dan melepaskan gas oksigennya kembali ke atmosfer. Hutan yang sedang tumbuh (hutan yang masih muda) akan berfungsi sangat baik sebagai carbon sinks, karena vegetasi di sana secara cepat akan menyerap banyak gas karbon dioksida pada proses fotosintesa dalam rangka tumbuh dan berkembangnya vegetasi. Vegetasi akan kembali melepaskan karbon dioksida ke atmosfer ketika mereka mati. Secara alamiah, dengan mengabaikan aktivitas manusia, proses terserap dan terlepasnya karbon dioksida ke atmosfer akan berjalan secara berimbang atau netral. Artinya, jumlah gas karbon dioksida di atmosfer relatif tetap terhadap waktu.
Aktivitas manusia, seperti penebangan dan pembakaran hutan, akan menjadikan karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer lebih besar daripada yang mampu diserap dan disimpan hutan, apalagi jika memperhitungkan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang semakin hari semakin meningkat. Konversi hutan menjadi daerah pertanian juga berperan sangat besar dalam proses kembalinya gas karbon dioksida ke atmosfer.
Dalam Protokol Kyoto, negara-negara yang memiliki hutan yang luas dapat mengambil keuntungan, dari sumberdaya hutannya tersebut, melalui skema perdagangan emisi. Dalam skema ini, akan ada negara yang berperan sebagai penjual emisi dan juga negara sebagai pembeli emisi. Saya sendiri kurang tahu sudah sejauh mana para negara penjual dan pembeli emisi ini membuat aturan main perdagangan emisi mereka. Jika ditinjau dari sumberdaya hutannya, Indonesia sebenarnya bisa berperan dan berpeluang cukup besar dalam perdagangan emisi ini, apalagi kalau kita bisa menjaga sumberdaya hutan kita dengan baik..
Potensi daya serap emisi karbon hutan dibumi berbeda-beda, misalnya saja, telah diteliti bahwa satu hektare hutan mangrove menyerap 110 kilogram karbon dan sepertiganya dilepaskan berupa endapan organik di lumpur. Penebangan hutan mangrove menyebabkan pembebasan karbon, endapan ini akan tetap terisolasi selama ribuan tahun. Karena itu, perubahan mangrove menjadi tambak udang, seperti yang dilakukan sementara orang sekarang ini, akan mempercepat pelepasan karbon ke atmosfer pula. Maka, dengan mencegah penggundulan hutan, negara-negara berkembang dapat secara efektif mereduksi emisi dan menurunkan pemanasan global.
Mengurangi gas-gas rumah kaca dengan mekanisme pembangunan bersih (CDM) melalui teknologi bersih, reforestrasi, dan aforestrasi yang dilakukan oleh berbagai negara. Dengan kata lain, upaya mempertahankan hutan pengikat karbon adalah usaha mencegah ironi, yakni negara-negara berkembang yang mempunyai hutan alam, seperti hutan tropis, akan terus berkurang karena terus ditebang. Apabila hal ini terjadi, pencapaian target penurunan emisi rumah kaca akan menjadi sulit dan bias, karena di satu pihak mengadakan upaya perbaikan, sedangkan di pihak yang lain merusaknya.
Tetapi, merosotnya jumlah luas hutan dibumi akan sangat mempengaruhi laju peningkatan emisi karbon yang ada di atmosfer. Misalnya, kebakaran hutan dan lahan yang seakan sudah menjadi “tradisi” tahunan di Indonesia terutama setiap kali musim kemarau datang. Pada kejadian kebakaran berskala besar di tahun 1997-98, diestimasikan sekitar 10 juta hektar lahan yang rusak atau terbakar, dengan kerugian untuk Indonesia terhitung 3 milyar dollar Amerika. Kejadian ini sekaligus melepaskan emisi gas rumah kaca (GRK) sebanyak 0,81-2,57 Gigaton karbon ke atmosfer (setara dengan 13-40% total emisi karbon dunia yang dihasilkan dari bahan bakar fosil per tahunnya) yang berarti menambah kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.
2.5  Upaya Dalam Pelestarian Hutan
Pelestarian dalam arti yang luas merupakan salah satu penerapan yang penting dari ekologi. Tujuan dari pelestarian yang sebenarnya adalah memastikan kualitas yang mengindahkan estetika dan kebutuhan maupun hasil serta memastikan kelanjutan hasil tanaman, hewan, bahan-bahan yang berguna dengan menciptakan siklus yang seimbang antara pemanenan dan pembaharuan.
Upaya dalam pelestarian hutan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
  1. Mencegah perladangan berpindah yang tidak menggunakan kaidah pelestarian hutan, waspada dan hati-hati terhadap api dan reboisasi lahan gundul serta tebang pilih tanam kembali.
  2. Menghindari pembukaan lahan baru dengan cara pembakaran hutan. Kebakaran hutan juga dapat terjadi bila tidak hati-hati terhadap api, membuang rokok yang tidak pada tempatnya akan dapat menjadi sumber api, membakar sampah atau sisa tanaman yang ada di lading tanpa pengawasan dan penjagaan juga dapat menjadi sumber kebakaran.
  3. Reboisasi, yang mempunyai efek serupa seperti penghijauan yaitu, mengurangi luas lahan yang dapat di tanami oleh petani dan pengurangan produksi oleh naungan pohon. Jadi jelas dari segi ekologi manusia, penghijauan dan reboisasi untuk kelestarian hutan sukar untuk berhasil selama usaha itu mempunyai efek menurunkan daya dukung lingkungan dan menghilangkan atau mengurangi sumber mata pencaharian penduduk.
BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa peningkatan emisi karbon yang ada di atmosfer dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan juga akan membawa beberapa dampak negative abgi kehidupan. Oleh karena itu, dengan adanya kawasan hutan yang memiliki potensi yang sangat besar bagi kehidupan, dimana kawasan hutan tidak hanya bermanfaat dalam bidang ekonomi tetapi hutan juga dapat menjadi suatu media dalam mengurangi peningkatan emisi karbon yang ada di atmosfer melalui proses fotosintesis tumbuhan. Dimana dalam proses fotosintesis, tumbuhan akan menyerap CO2 dan H2O dibantu dengan sinar matahari diubah menjadi glukosa yang merupakan sumber energi (sebelumnya diubah dulu melalui proses respirasi) tanaman tersebut dan juga menghasilkan H2O dan O2 yang merupakan suatu unsur yang dibutuhkan oleh organisme untuk melangsungkan kehidupan (bernapas). Sehingga selama proses fotosintesis berlangsung maka emisi karbon yang ada di atmosfer akan didaur ulang oleh tumbuhan menjadi oksigen yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Oleh karena itu, peran setiap pihak sangat dibutuhkan dalam melestarikan kawasan hutan, baik itu pemerintah maupun masyarakat sendiri, agar peningkatan emisi karbon yang ada di atmosfer dapat diminimalisir.
3.2  Saran
Berdasarkan pembahasan tersebut, saran penulis adalah sebagai berikut :
  1. Agar para pembaca lebih memperhatikan akan keberadaan hutan dan tidak merusaknya.
  2. Agar para pembaca mengetahui mengenai dampak yang ditimbulkan oleh peningkatan emisi karbon.
  3. Masyarakat lebih memperhatikan aktivitas-aktivitas yang dapat menIngkatkan emisi karbon.
  4. Bersama-sama melestarikan hutan demi mendapatkan manfaat bagi kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang.
  5. Sebaiknya pemerintah dan masyarakat lebih memperhatikan akan kelestarian hutan.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan tentunya diperlukannya perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi sempurnanya makalah ini.
Demikianlah karya ilmiah ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak.
 
DAFTAR PUSTAKA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s